PATI – Gelombang informasi liar di media sosial, kembali menjadi ancaman serius bagi stabilitas sosial, Minggu (17/5/26).
Hal ini terjadi pasca aksi unjuk rasa pada 13 Mei 2026 di wilayah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ketika foto dan video seorang pria berkaos hitam bertuliskan “DARAH POLISI ITU SEGAR” beredar luas.
Masalahnya, unggahan tersebut tidak berhenti pada penyebaran visual semata. Narasi yang menyertainya justru menyebut pria
Tersebut sebagai anggota intel Kodim 0718/Pati, sehingga menimbulkan spekulasi dan kecurigaan publik terhadap institusi negara.
Banyak pihak menilai, penyebaran informasi tanpa klarifikasi ini. merupakan bentuk hoaks berbahaya yang dapat menjadi alat provokasi
Terlebih, tulisan di kaos tersebut sangat sensitif, dan dapat memicu kemarahan serta stigma negatif terhadap aparat keamanan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hoaks bukan hanya soal informasi palsu, tetapi juga bisa menjadi senjata
Untuk menciptakan ketegangan sosial, bahkan memecah hubungan baik antara institusi negara seperti TNI dan Polri.
Padahal, sinergitas TNI–Polri selama ini menjadi pilar utama. dalam menjaga keamanan wilayah, khususnya di daerah-daerah yang rawan konflik, sosial akibat isu politik maupun demonstrasi.
Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, tuduhan bahwa pria tersebut adalah intel Kodim dipastikan tidak benar.
Pria itu ternyata seorang warga biasa berinisial B, berasal dari wilayah Margoyoso, Kabupaten Pati. kabar ini membantah tuduhan yang terlanjur beredar luas
Namun dampak hoaks sudah sempat mengganggu opini publik, karena sebagian masyarakat terlanjur membangun persepsi bahwa ada unsur aparat yang bermain dalam provokasi.
Untuk meredam kegaduhan, dilakukan klarifikasi terbuka bersama Plt Wakapolresta Pati, Anwar dan Dandim 0718/Pati, Letkol Arm Timotius Berlian Yogi Ananto, S.E., M.Han.
Dalam video klarifikasi, pihak berwenang menegaskan bahwa informasi yang menyebut inisial B sebagai intel Kodim adalah hoaks dan tidak berdasar.
Masyarakat pun diminta untuk tidak mudah terpancing isu yang belum jelas sumbernya. apalagi di era digital saat ini
Informasi bisa dimanipulasi untuk menciptakan konflik horizontal maupun institusional. “Kritik boleh, demokrasi harus dijaga.
Tapi jangan sampai dimanfaatkan pihak tertentu untuk memecah belah persatuan, termasuk sinergitas TNI dan Polri,” menjadi pesan tegas dalam klarifikasi tersebut.
Kejadian ini menjadi pelajaran penting bahwa literasi digital dan kehati-hatian dalam bermedia sosial, adalah kunci menjaga ketenangan masyarakat.(red)
















































