PATI I Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di Kabupaten Pati, berubah menjadi pesta rakyat penuh warna. Pasar Imlek Pati Bumi Mina Tani, Minggu malam (15/2/2026)
Hal ini menjelma lautan manusia, setelah panggung hiburan orkes dangdut mengguncang pusat kota.
Sejak sore hari, ribuan warga dari berbagai penjuru memadati lokasi. Tak hanya warga Tionghoa, masyarakat lintas agama dan budaya ikut menikmati kemeriahan perayaan yang berlangsung terbuka dan meriah.
Lampion merah bergantungan menghiasi area pasar rakyat. Aroma kuliner khas Imlek berpadu dengan dentuman musik dangdut, menciptakan atmosfer hangat dan penuh kebersamaan.
Koordinator Gusdurian Pati, Eddy Siswanto alias Eddy Kubota menyebut perayaan tahun ini, terasa jauh lebih semarak dibanding sebelumnya.
“Imlek kali ini beda. Lebih meriah, lebih terbuka, dan partisipasi masyarakat jauh lebih besar,” ujar Eddy Kubota.
Menurutnya, Pasar Imlek bukan sekadar hiburan tahunan, tetapi simbol kebersamaan dan keberagaman di Kabupaten Pati yang dikenal sebagai Bumi Mina Tani.
Eddy Kobota juga menegaskan bahwa semangat toleransi yang diwariskan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, terus hidup di tengah masyarakat.
“Imlek adalah milik kita bersama. Ini bukti Pati rumah untuk semua,” tambah Eddy Kobota.
Selain hiburan orkes, puluhan pelaku UMKM lokal turut meramaikan acara. Mereka mengaku omzet meningkat drastis.
Rina (27), salah satu pengunjung, mengaku terhibur, dengan konsep acara yang memadukan budaya Tionghoa dan hiburan rakyat.
“Biasanya Imlek identik barongsai. Sekarang ada dangdutnya juga. Semua kalangan bisa menikmati,” katanya.
Pengamanan dari aparat kepolisian terlihat sigap. Arus lalu lintas terpantau lancar, dan acara berlangsung kondusif hingga selesai.
Perayaan ini bukan hanya pesta budaya, tetapi juga momentum penguatan ekonomi rakyat. Harmoni keberagaman di Pati semakin kokoh.(red)











































